Menu Home

Ego Yang Memicu Keraguan Sebelum Merilis Blog Kosmosindo

mask-2506059_640

Tanpa terasa sudah dua tahun lebih, sejak Maret 2016, blog ini berjalan. Dan jika melihat klik sekitar 26 ribu dan ada 29 Follower, wow terima kasih banyak. Ini membuat saya sendiri heran.
Karena pada awalnya, saya sangat ragu untuk membuat blog berkonten spiritual dan sejumlah tema politik/ekonomi yang hampir tidak pernah diungkap dalam media mainstream.

Saya senyum-senyum lebar sendiri kalau ingat “pergulatan antara hati dan ego”, sebelum benar-benar berani meng-online-kan blog ini. Sudah jelas panggilan hati yang menggerakkan saya untuk membuat blog.

Tapi ego saya membombardir dengan pikiran-pikiran: “Bagaimana kalau ada teman kuliah dulu, rekan kerja jurnalis, atau siapa pun yang kamu (=saya) kenal membaca atau tahu kamu menulis blog bertema malaikat, Yeshua, Arcturian, dimensi ke-5 yang seperti itu… bisa-bisa kamu (=saya) disangka gila, tidak normalย ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚
Siapa yang mau baca tema-tema seperti itu? Siapa yang mau nge-klik?”… dan masih banyak pikiran-pikiran “ego” semacam itu.

Tapi suara dalam hati seperti tidak berhenti mengatakan: “Ayo naskah-naskahnya di-online-kan, sudah disiapkan sebegitu lama. Kalau ada yang baca, pasti yang mampir ke blog punya minat yang sama dan tertarik dengan spiritual. Tidak usah mikir ada klik atau tidak, online-kan saja.”

Sampai-sampai untuk menenangkan “ego”, pada awalnya saya menulis/membuat blog lain yang berkonten tema-tema “normal”, seperti yang biasa disajikan di media mainstream.
https://jermanlieb.wordpress.com/

Tapi karena tujuan saya membuat blog adalah sharing tema-tema spiritual, alias hati saya memang untuk tema-tema spiritual, blog yang lain itu ya tidak lanjut. Bahkan baru ingat lagi, kalau pernah membuat blog itu. ๐Ÿ™‚

Dan sebetulnya, impuls/ide meluncurkan blog kosmosindo ini, datang waktu saya baru mengenal/membaca pesan-pesan Arcturian. Saya tidak tahu tepatnya kapan dan bagaimana saya bisa sampai mendarat di sebuah blog pesan Arcturian lewat Suzanne Lie yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, mungkin tahun 2014/2015. Waktu itu ada channeling meditasi bersambung selama beberapa minggu untuk menghubungkan hati/spirit dengan hati/jantung Ibu Bumi. (Link dalam bahasa Inggris http://suzanneliephd.blogspot.de/2016/01/make-ascension-normal-with.html)

Terus terangnya, kala itu saya tidak tahu siapa atau apa itu Arcturian, tapi pesan/getaran dalam channeling itu menarik saya sedemikian rupa. Rasanya tidak asing, rasanya saya bisa beresonansi, mengerti pesan-pesan Arcturian itu. Aneh tapi nyata.

Pada pekan-pekan pesan meditasi menghubungkan hati dengan hati Ibu Bumi itu, ada suatu hari, ketika saya seperti menangkap pesan/channeling dalam bahasa Jerman dari Spirit Gunung Kilimanjaro. (Naskahnya masih dalam bahasa Jerman, dan saya selama ini belum siap/berani mengekspresikannya ke luar. Tapi akan tiba waktunya saya menerjemahkan pesan dari Spirit Gunung Kilimanjaro itu dan pasti akan saya posting di blog ini.)

Jadi sebetulnya, perlu sekitar 1 tahun saya menyingkirkan suara/pikiran ego dan lebih berani mendengar suara hati untuk meng-online-kan blog ini.

Saya menulis ini, karena beberapa bulan terakhir, meskipun saya banyak mem-posting pesan-pesan yang menekankan cinta tanpa syarat, melepaskan ego, dsb. ada kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang membuat saya dihadapkan dengan ego-ego,
mengalami situasi-situasi di mana saya memberi, menolong, memberi, tapi bukannya dapat “bintang” tapi rasanya malah seperti saya diminta memberi lebih banyak lagi, dibanding apa yang sebenarnya saya bersedia untuk berikan.
Hati sudah mengetahui, bahwa kejadian-kejadian ini pelajaran untuk menegaskan batasan-batasan saya, lebih bisa menghargai diri sendiri, untuk bisa melepaskan, mengizinkan dan mempercayai proses kehidupan, tapi ego rasanya masih mau marah, protes, kesal, cemburu, merasa dirugikan, tidak mau terima. Dan saat ini yang dapat saya lakukan adalah belajar menerima perasaan/emosi-emosi yang terasa liar tersebut, mengizinkannya ada, tanpa menghakimi keberadaannya.

Pada fase-fase tertentu ego bisa muncul dan menampilkan dirinya sebegitu jelas.
Dengan kata lain, proses beralih dari ego ke hati, memerlukan waktu dan sifatnya bertahap.

Light and Love
Dyan (kosmosindo)

Categories: Allgemein

kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: