Menu Home

Bertemu Twin Flame – Menghadapi Sisi Gelap Diri (Shadow Work)

silhouettes-812125_640

Pembaca sayang, dear Twin Flames,

Sifat dasar hubungan twin flame yang sebenarnya adalah jalur spiritual, ya, Twin Flame adalah hubungan spiritual. Ketika kita bertemu dengan pasangan twin flame kita, aspek spiritual tubuh kita diaktifkan. Kemampuan telepati, intuisi, proses ascension (terjaga secara spiritual), Kundalini – dan dengan demikian semua luka batin, trauma sejak kecil sampai saat ini,  bahkan yang tidak kita sadari pun – semua diaktifkan. Hubungan Twin Flame memaksa kita melihat sisi gelap diri kita sendiri dengan tujuan – mau tidak mau – menghadapi sisi gelap diri kita sendiri, yang dikenal dengan istilah shadow work.

Pasangan twin flame – tanpa mereka sadari – sepertinya menekan tombol-tombol spiritual dalam diri kita, tanpa bisa dihindari. Terlepas apakah sebelum bertemu twin flame seseorang sudah menempuh jalur spiritual atau belum, bertemu dengan pasangan Twin Flame-nya, akan menyulut API spiritual dalam jiwa seseorang. Tidak heran, jika disebut Twin Flame, yang artinya Api Kembar. Dan API di sini adalah API spiritual, yang ada dalam hati setiap makhluk hidup, api dalam jiwa. Dan dengan adanya api, berarti ada cahaya yang menerangi sesuatu, menerangi hal-hal yang selama ini tampak gelap. Api Jiwa atau Twin Flame berarti menerangi hal-hal gelap dalam jiwa, sisi gelap jiwa (shadow).

Dengan dinyalakannya tombol-tombol/Api spiritual ini, hidup seseorang akan berubah, dengan kata lain, twin flame akan terpaksa melihat ke dalam jiwa, lebih mendengar suara hati, menelaah ke dalam jiwanya. Dan dalam proses ini, dia akan mempertanyakan, semua yang pernah dialami dan dihadapinya dalam hidup. Mengapa hidupnya berjalan seperti yang dialaminya selama ini, mengapa dan atas dasar apa ia mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya, mengapa dia bersikap, apa yang mendasari pola perilakunya, mengapa dia diperlakukan sedemikian rupa dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan orang lain, di dalam dan dengan keluarga… dan sering kali – semua luka batin, semua trauma yang menjadikannya manusia saat ini dengan sifat, perilaku, cara membina hubungan, cara bereaksi terhadap orang lain, cara memandang/menilai dirinya sendiri – semua ini berasal dari masa kecil. Banyak luka anak batin, banyak trauma, yang disadari atau seringkali tidak disadari, telah membentuk seseorang menjadi orang / pribadi saat ini.

Misalnya, saya sebelumnya selalu heran: Mengapa sebagus, serajin apapun saya bekerja, tidak pernah saya mendapat penghargaan seperti yang saya harapkan atau impikan. Sementara orang lain – bahkan yang saya bantu dalam pekerjaan pun – lebih dihargai daripada saya, sepertinya orang lainlah yang layak memetik buah dari susah payah yang saya lakukan. Baru setelah bertemu Twin Flame, dan merasakan betapa sakitnya mengalami proses tidak dihargai ini, saya menyadari, bahwa ini berakar – sejak kecil – orang lain selalu lebih penting, harus lebih dulu daripada saya, lebih layak/pantas daripada saya.  Itu sebabnya, selama ini saya tidak merasa penting, tidak merasa layak menghargai diri sendiri, tidak pada tempatnya menganggap penting diri sendiri. Karena persepsi ini sudah tertanam sejak kecil, hal itu bagi saya seperti sudah menjadi sesuatu yang wajar, “tanpa disadari” sudah seperti berjalan otomatis dalam pola kehidupan.

Ketika twin flame saya memperlakukan saya “tidak berharga”, ini seperti menekan tombol yang membuat saya sadar, kondisi ini tidak bisa berlangsung terus-menerus…dengan kata lain, ada yang tidak beres dalam kehidupan saya. Karena apa yang diperlakukan orang terhadap saya, adalah cerminan Belief System = sistem kepercayaan tentang diri saya sendiri.

Menelusuri pola hidup, persepsi, berperilaku dan sikap diri sendiri, bukan hal yang menyenangkan. Melihat sisi gelap diri sendiri, seringkali membawa kita untuk melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita tinjau dan telaah kembali. Tapi tanpa melihat sisi gelap itu, kita tidak akan dapat membuat perubahan yang penting bagi kehidupan kita selanjutnya. Karena jika sisi gelap itu tidak dihadapi, berarti siklus kehidupan yang lama – misalnya tidak memiliki harga diri, tidak merasa diri saya pantas – akan berlanjut dan berulang kembali. Ini baru satu aspek atau tombol, sementara ada banyak sekali aspek lainnya. Dan menghadapi aspek/tombol spiritual itu membutuhkan energi dan waktu, dan keberanian.

Nah, karena melihat dan menghadapi sisi gelap jiwa bukan hal yang menyenangkan, banyak salah satu pasangan Twin Flame “lari” dari pasangan Twin Flame lainnya. Biasanya yang “lari” adalah Divine Masculine. Tapi bukan berarti dalam fase “lari” ini, tombol-tombol spiritual pada diri mereka tidak aktif/diaktifkan. Mereka lari karena secara tanpa disadari, mereka tahu bahwa mereka juga harus melihat dan menghadapi sisi gelap dalam diri mereka. Hanya – seperti sudah disebutkan – melihat sisi gelap jiwa bukan hal yang mudah, sebab itu sama dengan merasakan lagi luka batin dan trauma, untuk menyembuhkannya secara spiritual. Dalam hubungan Twin Flame, biasanya Divine Feminine (DF) yang harus lebih dulu menghadapi shadow work atau menghadapi dan menyembuhkan sisi gelap diri. Karena DF biasanya lebih dulu terjaga secara spiritual dan mungkin secara intuitif tahu, bahwa shadow work adalah tahap proses dalam perjalanan Twin Flame.

 

Light and Love

kosmosindo

 

 

 

 

Categories: Allgemein Bumi Baru Spiritual

Tagged as:

kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: