Menu Home

Trauma Pelecehan Seksual – Membuka Blokade Kundalini dan Chakra Sakral (Shadow Work)


chakra-1063278_640
Pembaca sayang, dear Twin Flames,

sudah cukup lama “my guides” mendorong saya untuk menulis tema ini. Tapi berkali-kali saya menundanya…ya, siapa yang senang harus menghadapi sisi gelap diri (shadow work). Mulai dari mana menulisnya pun saya sulit menemukan kata-kata, tapi setelah lebih mengerti hubungan pelecehan seksual yang saya alami dan dampaknya pada energi Kundalini, chakra sakral dan menyeimbangkan energi Divine Feminine dan Divine Masculine, saya lebih mendapat ide untuk menulisnya.
Saya mengalami pelecehan seksual ketika berumur 12 tahun, bukan oleh anggota keluarga tapi oleh orang yang memiliki hubungan dengan keluarga. Jadi, saya bisa mengerti, apa yang dialami oleh orang yang mengalami pelecehan seksual dan apa dampak trauma pada kehidupannya, sampai trauma ini disembuhkan.

Bila seseorang mengalami pelecehan seksual – apakah itu dalam makna diperkosa, atau perlakuan dalam konteks seksual yang tidak sepantasnya/melanggar batas, apakah itu pada anak-anak atau remaja atau orang dewasa – ini menimbulkan luka batin pada diri seseorang. Kalau diperkosa, sudah jelas ada luka/sayatan/robekan secara fisik. Tapi jika tidak sampai diperkosa – secara energetis, karena tubuh kita tidak hanya fisik, tapi juga memiliki tubuh energetis – terjadi sayatan atau robekan pada tubuh energetis atau pada aura kita. Bila dikatakan trauma yang terjadi akibat pelecehan seksual, selama trauma itu masih belum tersembuhkan, menjadi luka/sayatan/robekan pada aura atau tubuh energetis seseorang.

Nah karena tubuh energetis atau aura itu berfungsi sebagai pelindung tubuh (energetis), jika itu tersayat atau ada robekan, ini membuat seseorang rentan terhadap luka yang sama = energi yang sama. Dengan kata lain, ada sesuatu dalam energi orang ini yang memancarkan sinyal/tanda keluar yang mengatakan “Hei, saya sudah mengalami pelecehan seksual”, tanpa orang ini menyadarinya. Karena dia memancarkan sinyal (vibrasi) luka energetis ini, dia pun seperti menarik situasi atau orang, untuk mengalami luka batin “pelecehan seksual” yang sama atau setidaknya orang/situasi yang melanggar batas kewajaran. Misalnya, dia akan menarik pasangan/kekasih yang tidak menghargai perasaannya, yang seringkali melukai perasaannya, atau juga yang hanya mencintainya sebatas fisik semata atau kalau merasa perlu bantuannya. Atau seseorang sering mengalami pelecehan seksual secara verbal, bahkan dari beberapa teman. Jadi luka batin ini terasa terus berulang dan berulang dan berulang. Bagi orang yang “sehat auranya”, dia akan mampu menarik garis batas, akan mampu membela diri atau melindungi dirinya sendiri. Tapi bagi orang yang traumatis, dia tidak punya kemampuan menarik batas, membela diri yang penting dalam situasi tertentu. Apa sebabnya? Ya, karena “batasan energetisnya” sudah terlanggar dan tersayat, jadi itu seperti terbuka, lukanya tetap menganga, dia sebetulnya sakit dalam konteks energetis.

Luka yang menganga ini, juga menjadi luka energetis pada chakra sakral. Chakra sakral adalah sumber energi seksual dan kreativitas seseorang. Ini adalah cakra kedua, kira-kira sejajar dengan panggul, agak sedikit di atas chakra dasar yang terletak di ujung bawah tulang belakang.
Luka energetis ini bisa diartikan blokade pada roda energi atau chakra. Pada orang yang memiliki chakra sakral yang sehat, roda energi ini akan berwarna oranye dan energi seksual dan kreativitas dalam hidupnya berjalan lancar. Hubungan cintanya berjalan baik dan energi penciptaan (kreativitas untuk berkarya dengan demikian untuk mendapat penghasilan dalam hidup) lancar.

Bagi seseorang yang mengalami blokade pada chakra sakral, ini tampak hitam, suram, tidak berwarna oranye. Saya melihat ini (lewat mata batin) saat melakukan meditasi dan mendapat shaktipat (transmisi energi) kundalini. Saya tidak bisa melihat chakra sakral saya, yang tampak hanya gelap, meskipun beberapa bulan melakukan meditasi kundalini. Saya bisa melihat warna hijau pada chakra hati dan chakra solar plexus sudah bersinar kuning, tapi chakra sakral yang memiliki blokade, ternyata memang berwarna gelap atau hitam.
Nah, karena Kundalini adalah energi jiwa kita yang seharusnya mengalir lancar dari chakra dasar – berwarna merah pada ujung bawah tulang ekor – dan naik ke chakra sakral, chakra solar plexus, chakra hati, chakra tenggorokan, chakra mata ketiga, hingga ke chakra mahkota, blokade pada chakra lebih bawah, pada chakra sakral sangat memengaruhi kesehatan energi chakra dasar. Atau kalau pun chakra dasar sudah agak baik, energi tidak bisa naik atau terblokir di chakra sakral. Jadi “ular yang terjaga/Kundalini” itu turun lagi dan turun lagi, tidak bisa merambat naik. Dan dalam kasus saya – energi kreativitas saya tidak bisa menghasilkan pendapatan yang memuaskan, atau energi kreativitas saya dinikmati hasilnya oleh orang lain atau saya harus memberikan hasil kreativitas saya kepada orang lain, saya mengalami pelecehan seksual secara verbal, saya tidak berani mengatakan tidak, saya tidak berani menarik batas.

Aktifnya Kundalini, ini membuat kita lebih sadar akan suara jiwa kita, akan diri kita yang sesungguhnya. Ini membuat kita sadar penyebab blokade pada suatu chakra, dalam hal ini saya sadar akan blokade chakra sakral. Bukan berarti selama ini saya tidak berusaha menyembuhkan luka batin akibat pelecehan seksual. Ini proses penyembuhan yang berlangsung hampir selama hidup, tapi karena dulu (apalagi di Indonesia) hal ini hal yang luar biasa tabu, saya hanya memendamnya dalam hati.
Di Jerman pun baru tahun lalu saya menceritakan kepada seseorang (twin flame), dan saya merasa dia bisa mengerti, tanpa saya harus banyak menyampaikan kata-kata.
Baru setelah itu, saya mulai bisa melihat sakral chakra lambat laun mulai tidak terlihat hitam. Kadang-kadang saya bisa melihat setitik warna, pada saat bermeditasi atau saat shaktipat kundalini. Dan suatu kali, ketika shaktipat Kundalini, saya bisa melihat warna oranye di chakra sakral. Terus terang saya sangat senang, saat melihat chakra sakral itu memiliki warna dan sejak itu saya bisa merasakan energi Kundalini bergerak di tulang belakang. Yang artinya kadang-kadang saya mendadak merasa panas di tulang belakang yang membuat saya tidak bisa tidur atau terbangun dari tidur. Tapi itulah yang terjadi jika energi Kundalini mulai bisa mengalir.

Dalam kesempatan lain, saya akan menulis trauma pelecehan seksual dan hubungannya dengan keseimbangan energi Divine Feminine dan Divine Masculine.
Satu hal yang ingin saya sampaikan, pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan. Pelecehan seksual juga terjadi pada pria. Mungkin saat saya membaca dan melihat dokumentasi tentang pelecehan pada pria – apa yang mereka rasakan, trauma yang mereka alami tidak beda dengan yang dialami pada perempuan – itu menjadi titik penyembuhan penting pada diri saya. Dan lebih mudah melihat apa yang terjadi, apa yang dialami dari posisi sebagai pengamat, dan bukan sebagai korban.

Dan ditinjau dari jalur spiritual sebagai Lightworker, Starseed, Twin Flame, semua yang dialami dalam hidup adalah pilihan=tantangan yang kita ambil sebelum berinkarnasi ke dunia ini. Meskipun kadang tantangan dan proses penyembuhan itu terasa berat, penyembuhan yang kita lakukan untuk diri sendiri merupakan bagian penyembuhan bagi kolektif.

Love and Light
kosmosindo

Categories: Allgemein

kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: