Menu Home

Trauma Pelecehan Seksual – Menyeimbangkan Energi Divine Masculine dan Divine Feminine

asmara_heart-1137258_640

Pembaca sayang,

setiap orang memiliki energi Divine Masculine dan Divine Feminine, semua orang tanpa pengecualian. Energi Divine Masculine dan Divine Feminine bukan mengacu pada gender. Ini seperti bagian otak kanan dan bagian otak kiri, setiap orang memiliki bagian otak kanan (yang sering dikaitkan dengan energi maskulin dan bagian otak kiri yang sering dikaitkan dengan energi feminin). Bila otak bagian kanan dan otak bagian kiri pada seseorang bekerja secara seimbang, terintegrasi secara baik, energi Divine Masculine dan energi Divine Feminine pada orang tersebut juga seimbang, terintegrasi dengan baik.

Energi Divine Masculine adalah mampu mengambil tindakan (melakukan manifestasi) yang dibutuhkan, menarik batas, melindungi.
Energi Divine Feminine adalah mampu menerima, mengizinkan hal-hal terjadi pada waktunya atau sabar, bisa ikut merasakan dan memberi dukungan.

Energi Maskulin yang terdistorsi adalah a.l. bertindak/melakukan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkannya tanpa mengenal batas, agresif, tanpa mempertimbangkan batasan orang lain, tanpa melindungi batasan orang lain, ingin menguasai/mengawasi seseorang.
Energi Feminin yang terdistorsi adalah a.l. tidak sabaran, tidak mengizinkan hal-hal berkembang/terwujud secara alami, tidak mampu mengambil tindakan, dan manipulatif (ini dalam kejadian umum sehari-hari misalnya bergosip, berbohong, berkata-kata manis di depan tapi di belakang menjelekkan seseorang).

Pelecehan seksual terjadi karena tidak seimbangnya energi Divine Masculine dan Divine Feminine. Istilah yang sering dipakai adalah energi maskulin dan energi feminin yang terdistorsi.
Sang pelaku – dengan energi maskulin yang terdistorsi – mengambil tindakan yang melewati batas, melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan dan melindungi batasan orang lain, ingin menunjukkan/meraih kekuasaan atas seseorang, yakni orang yang mengalami pelecehan seksual. Sang pelaku – dengan energi feminin yang terdistorsi – tidak mengizinkan hal-hal terwujud secara alami, tidak sabaran, tidak bisa ikut merasakan, tidak memberi dukungan.
Orang yang mengalami pelecehan seksual merasa tidak berdaya untuk menarik batas yang diperlukan, merasa tidak mampu mengambil tindakan yang dibutuhkan, tidak berdaya melindungi diri.
Secara sederhana itu yang terjadi, tapi dalam hidup seseorang itu tidak sesederhana seperti yang dipaparkan.

Dari pengalaman saya, orang yang mengalami pelecehan seksual inilah, yang mau tidak mau berusaha mencapai keseimbangan Energi Divine Masculine dan Divine Feminine.
Prosesnya bagi tiap orang bersifat individual, unik. Menerima bahwa kejadian itu terjadi dalam hidup dan memaafkan, adalah satu hal yang paling sulit dilakukan.
Tapi selama saya belum bisa menerima, selama saya masih terus bertanya mengapa hal itu bisa terjadi, dan dalam hati menyalahkan semuanya, jalan hidup dan bahkan protes kepada Tuhan, protes dilahirkan ke dalam dunia ini, itu hanya memperburuk dan membuat saya tidak merasa bahagia. Merasa menjadi “korban”.

Sampai suatu kali saya tiba pada pikiran (ini terjadi ketika sahabat saya meninggal setelah sakit singkat), hidup ini hanya selintas. Saya ingin merasa bahagia dalam hidup. Oke, itu buruk pernah mendapat pelecehan seksual, tapi saya ingin menikmati hari-hari dalam hidup tanpa dibayangi, tanpa dibebani peristiwa itu. Tanpa peristiwa itu “menguasai” hidup saya, saya ingin bertanggung jawab bagi diri sendiri, mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengubah rasa tidak berdaya menjadi mampu mengambil tindakan yang diperlukan. Ini seperti melepaskan rasa menjadi “korban”.
Karena selama anak batin masih merasa terluka, selama anak batin ini tidak merasa terlindungi, merasa tidak berdaya, trauma pelecehan seksual akan terus mengikuti dan tidak tersembuhkan. Tindakan yang diperlukan bagi saya adalah belajar mencintai diri sendiri tanpa Syarat, mengambil jarak/menarik batas dari hal-hal di mana saya tidak merasa dihargai, tidak mendapat dukungan dan pelindungan yang sewajarnya  Dengan kata lain, saya belajar melindungi anak batin saya sendiri dan menyembuhkannya.
Dengan belajar melindungi anak batin, menyembuhkan anak batin, seiring itu pula proses menyeimbangkan energi Divine Masculine dan energi Divine Feminine berlangsung. Dan ini adalah proses bertahap, berkelanjutan selama hidup kita🙂

Bagi para Lightworker, Starseed dan/atau Twin Flame, tantangan hidup yang berat tentunya bukan hal yang asing. Pada suatu titik dalam hidup, ketika menyadari misi sebagai Lightworker, Starseed atau Twin Flame, jawaban mengapa semua itu terjadi dalam hidup, akan menjadi jelas. Ini adalah pilihan yang telah diambil sebelum berinkarnasi ke dunia ini, tidak ada jalur mengundurkan diri dari misi:-))
Setiap penyembuhan yang kita lakukan, setiap tahap mencapai keseimbangan energi Divine Masculine dan Divine Feminine, kita melakukannya untuk kolektif dan alam semesta.

Stay strong dear Lightworkers, Staarseeds and Twin Flames!

Sending you all Love and Light
kosmosindo

Categories: Allgemein Spiritual

Tagged as:

kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: