Menu Home

Isu Ketergantungan dalam Codependency Relationship Bersumber dari Merasa Kurang

relationship-154725_640

Pembaca kosmosindo sayang,

Hubungan Ketergantungan atau codependency relationship, baru saya kenal setelah menempuh jalur Twin Flame, kira-kira dua tahun lalu.
Saya baru mengetahui bahwa hubungan cinta dengan para mantan saya selama ini, memiliki masalah ketergantungan (codependency issues).
Bukan itu saja, semua pola hubungan yang saya bina dengan orang lain ternyata dilandasi isu ketergantungan – yang dalam tulisan ini saya sebut codependency.
Awalnya saya mengira hubungan codependency, hanya terkait hubungan dengan kekasih atau hubungan cinta. Tapi setelah melihat lebih jauh luka anak batin, melihat lebih jujur ke dalam Jiwa/Diri (dan dari petunjuk alam semesta yang dikirim dalam berbagai bentuk), kembali saya menemukan kesadaran, bahwa hubungan codependency dimulai dari masa anak-anak.

Hubungan percintaan dengan mantan saya yang terakhir, benar-benar menunjukkan – apa yang akhirnya saya ketahui sebagai perilaku atau ciri-ciri narsistik.
Codependent dan Narsistik pada dasarnya sama, yakni gangguan pada kepribadian seseorang yang membuat dia lepas hubungan dari Jiwa atau Diri Otentiknya sendiri.

Hal-hal yang menjadi jelas dalam hubungan codependency dengan mantan terakhir saya adalah:

– Dia tidak pernah mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan saya. Bila saya mengatakan, suatu hal menyakiti saya, membuat saya sedih, suatu hal menggugah rasa luka batin saya, bukannya dia menghentikan hal itu tapi malah seperti dia mendapat petunjuk “sesuatu itulah” yang dapat dilakukannya untuk membuat saya sedih.
Contohnya: Dulu waktu masih aktif siaran, saya katakan, tolong jangan telepon pk. 11- 14 karena itu waktu sedang sibuk persiapan siaran. Apa yang terjadi, justru dia selalu menghujani saya dengan telepon pada jam-jam tersebut. Dan kalau saya sudah selesai kerja, dia malah tidak telepon sama sekali.
Contoh lain tempat makan/restoran. Saya katakan, saya tidak suka atmosfer restoran itu, justru sejak itu ke restoran yang tidak saya sukai itulah dia setiap kali mengajak saya makan. Dan tempat lain yang saya katakan saya menyukainya, tidak pernah lagi dikunjungi.

– Jika sesuatu tidak berjalan baik, dia selalu membalikkan situasi dengan mengungkit keadaan, mengatakan saya-lah yang salah, sayalah yang merusak “keharmonisan hubungan”.
Bila saya menolak ajakannya karena yang dituju adalah tempat-tempat yang tidak saya sukai, dan dia tidak berusaha mencari kompromi tempat lain, maka dia akan selalu menimpakan kesalahan pada saya. Dia mengatakan, dia sudah mengorbankan waktunya, tenaganya, uangnya, dsb dsbnya, tapi saya tidak menghargai upayanya itu.

– Segala sesuatu harus menuruti dia, tidak ada tempat untuk saya dan kamu atau kami, yang ada hanya dia.
Saya tidak punya hak suara, kalau pun pada dasarnya punya hak suara, tapi itu tidak pernah ditanggapi, tidak pernah didengar. Saya akhirnya selalu membungkam dan mengesampingkan keinginan dan kebutuhan saya, untuk menuruti saja keinginan dia.

– Dia selalu merasa seperti dia “di atas” saya, dan saya “di bawah” dia. Bisa dikatakan dia merasa lebih unggul, menguasai saya.
Contohnya: Setiap saya menelepon dia, kata-kata pertamanya: Ada apa? Cepat bicara, saya tidak punya banyak waktu.

– Dia selalu merasa Apa yang telah dia lakukan untuk saya, dia berikan untuk saya meskipun itu kecil, sangat berarti besar, sangat penting. Sebaliknya apa yang telah saya lakukan untuk dia, sebesar dan seberharga apa pun, tidak ada artinya.

– Bila dia melakukan sesuatu harus ada imbalannya. Dia selalu menuntut imbalan, tidak pernah sesuatu dilakukannya tanpa syarat.

– Dia tidak pernah bisa diajak bicara dari hati ke hati. Dalam arti di sini, dia bisa menceritakan segala perasaannya, kesulitannya, hal-hal tidak menyenangkan yang dialaminya kepada saya. Saya mendengarkannya dan menanggapinya dengan sepenuh hati. Tapi begitu giliran saya akan mencurahkan perasaan saya yang sebenarnya, dia tidak pernah merespons-nya, saya bisa merasakan bahwa dia tidak mendengarkan itu, apalagi mengerti. Dia tidak bisa ikut merasakan. Sering saya bertanya, apakah dia tidak punya perasaan, mengapa dia tidak mengerti perasaan saya? Jadi selama hubungan on off sekitar 10 tahun, juga meskipun dia ada di sebelah saya, saya merasa lebih kesepian daripada kalau saya sedang sendiri.

Mungkin saat membaca ini, ada pembaca yang langsung berpikir, mengapa mau bertahan dalam hubungan seperti itu? Mengapa “mencintai” orang yang kurang bisa memberikan cinta, kurang bisa memberi pengertian, kurang bisa memberi perhatian yang wajar, kurang bisa menghargai?

Tepat itulah yang terjadi dan membuat hubungan codependency memungkinkan,
di mana satu pihak merasa “kurang”: kurang cinta diri, kurang menghargai diri, kurang percaya diri, kurang baik, kurang layak/pantas.
Karena merasa “kurang”, satu pihak ini terus berusaha melakukan/memberi lebih banyak untuk mengisi kekurangan yang dirinya rasakan. Artinya memberi lebih banyak cinta, memberi lebih banyak pengertian, memberi lebih banyak perhatian, memberi lebih banyak…

Tapi dia bukan memberi lebih banyak untuk mengisi yang kurang dalam dirinya, tapi memberi lebih banyak kepada pihak di luar dirinya, kepada pihak lain.

Langkah penting dalam melepaskan diri dari hubungan codependency adalah pihak yang merasa “kurang”, menyadari, mengakui bahwa ia merasa seperti “kurang” dalam dirinya.
Ini biasanya karena kurang cinta diri – merasa kurang baik, kurang pantas, merasa kurang berharga.
Apa yang mendasari dan dari mana rasa “kurang cinta diri” ini berakar.
Kapankah ini dimulai, siapakah yang menimbulkan rasa “kurang” ini, dalam situasi-situasi bagaimana, dalam peristiwa-peristiwa apa?

Dalam menyusun daftar jawaban pertanyaan-pertanyaan ini, seringkali seseorang menyadari bahwa sumber codependency adalah lingkungan terdekatnya, hubungan awal dari mana seseorang dibesarkan.
Seringkali penganiayaan emosional dan/atau fisik terhadap seorang anak, membentuk landasan – yang sayangnya – membuat anak ini menjadi individu dewasa yang merasa “kurang”, yang rentan terhadap hubungan codependency. Anak ini (saya) besar dengan hubungan codependency (ibu yang berkepribadian narsistik). Jadi saat anak ini menjadi individu dewasa, dia mencari hubungan yang sama dengan cara dia dibesarkan: Hubungan Codependency. **

Dan begitu individu dewasa ini secara jujur menyadari sumber rasa “kurang” dalam dirinya, secara sadar berhenti memberi lebih banyak kepada orang lain, dan mulai beralih melihat ke dalam dirinya: melakukan atau memberi cinta lebih banyak kepada “anak batinnya yang merasa kurang”, penyembuhan DIRInya dimulai.

Apa yang terjadi jika pihak yang merasa “kurang” memberikan atau mengisi kekurangan itu untuk dirinya sendiri, bukan kepada pihak lain?
Hubungan codependency tidak lagi berfungsi, karena dengan menyadari kekurangan dalam dirinya dan menyembuhkan dirinya sendiri untuk apa yang kurang dalam DIRI sendiri, pihak yang tadinya terus memberi karena merasa “kurang”, tidak lagi mencari, tidak dapat bertahan dalam hubungan codependency. Hubungan itu tidak lagi memungkinkan, karena pihak yang “kurang” sudah memberi kepada anak batinnya, kepada DIRInya sendiri cinta, perhatian, penghargaan, pelindungan yang cukup.
Vibrasi atau getaran yang dipancarkan dari dalam DIRInya bukan lagi vibrasi “kurang” dan ini akan menarik vibrasi atau getaran yang lebih sesuai. Dengan kata lain, individu dewasa ini akan menyelaraskan vibrasinya untuk menarik situasi, orang atau pasangan yang lebih sesuai vibrasi/getarannya.

Terus-terang, meskipun saya tahu ada yang “janggal” dalam cara saya tumbuh besar, tapi menjadi sadar bahwa itu adalah bentuk codependency/narsisistik, sangat mengejutkan. Tapi selama proses penyembuhan anak batin, kembali saya sadar ini adalah pilihan Jiwa untuk mengalami apa yang dalam konteks 3D disebut narsisisme, hubungan codependency, guna menyembuhkan luka batin yang disebabkan energi ini, guna mentransmutasinya ke dalam cahaya.

** Jika ada pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang hubungan codependency, atau merasa dibesarkan dalam pengaruh narsistik dan ingin menempuh kehidupan yang sehat: The Human Magnet Syndrome – The Codependent Narcissist Trap dari Ross Rosenberg adalah buku yang, bagi saya, terasa paling memberi pengertian dan sangat membantu.

 

Light and Love
kosmosindo

Categories: Allgemein

Tagged as:

kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: